Senin, 24 Januari 2011

BAB V (Pemikiran Filsafat Pendidikan Ar-Razi)


BAB V
PENUTUP


A.  Kesimpulan,
        Berdasarkan uraian di muka, dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:
        Seluruh elemen dalam sistem filsafat ar-Razi memiliki hubungan signifikan dengan persoalan-persoalan
pendidikan, dimana problem-problem utama pendidikan dapat digali dan dirumuskan berdasarkan kajian kefilsafatannya. Secara umum, pemikiran ar-Razi membantu memahami realitas; meliputi pemahaman atas hakekat semesta, manusia, serta kehidupan itu sendiri, yang pada gilirannya dapat dijadikan landasan dalam menentukan upaya-upaya mengarifi kehidupan secara tepat.
        Berdasarkan Filsafat Pendidikan ar-Razi, hidup dapat dipahami sebagai proses penyadaran dari kebodohan; dari jeratan materi Hidup adalah kesempatan bagi setiap jiwa untuk belajar dan berbuat baik, guna meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan entry pointnya di akhirat kelak. Keutamaan hidup terletak pada keberhasilan individu meniru (tasabbuh/takhalluq bi asma Allah) sifat-sifat Tuhan, yakni menjadi pribadi yang pandai, kreatif, bertanggung-jawab, toleran, adil dan penuh kasih sayang terhadap diri sendiri dan kepada sesama. Dengan kata lain, nama dan sifat-sifat Allah Swt dijadikan rujukan dan orientasi pendidikan.
        Pemikiran pendidikan ar-Razi memungkinkan untuk dikembangkan sebagai paradigma pendidikan pembebasan, yang membebaskan manusia dari dehumanisasi irrasionalitas, berupa jeratan ortodoksi serta sikap dan prilaku irrasional lainnya. Sehingga timbul kesadaran, pada diri dan realitas sekitarnya, untuk selanjutnya dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki yang telah dikaruniakan Allah Swt kepada manusia. Pemikiran ini mengarah pada upaya mengantarkan individu yang cerdas, produktif, kreatif, serta bijaksana, dengan tetap berpijak pada landasan keimanan pada Allah Swt beserta serangkaian tatanan moralitas-Nya.
        Hal itu dapat ditempuh dengan mengerahkan pendidikan sebagai wahana pembentukan disposisi pribadi yang menempatkan rasionalitas (an-nafs an-Natiqah) sebagai unsur dominan dalam kepribadiannya. Pemikiran ar-Razi memberi  optimisme bagi pengembangan diri secara optimal, sebab akal dipandang sebagai pancaran cahaya Ilahi, yang menjadi pintu gerbang untuk meraih segala bentuk ilmu pengetahuan, termasuk tentang potensialitas rasio dapat dikembangkan lebih jauh guna mendasari perumusan metode pendidikan, yakni dengan menggunakan pendekatan kognitif. Dengan mempersiapkan aspek kognitif dengan baik, akan membentuk aspek afektif dan psikomotorik yang baik.
B.    Saran-saran,
        Berangkat dari serangkaian kajian yang mengungkap segi-segi pemikiran ar-Razi di atas, penulis merasa perlu mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1.       Gagasan yang ditawarkan ar-Razi perlu ditempatkan sebagai bahan refleksi yang mendasari pengembangan pemikiran pendidikan di masa kini dan mendatang. Jangkauan pemikirannya yang sedemikian jauh, selama ini tidak direspon secara positif dan bijaksana, melainkan dengan hujatan dan makian. Karena itu, ada baiknya menengok kembali kesiapan mental kita menghadapi hal-hal baru yang mungkin sama atau lebih dari yang ditawarkan ar-Razi agar tidak gegabah mengambil alih hak Tuhan, yakni dengan memvonis kafir terhadap sesama muslim.
2.       Melihat fakta sejarah bahwa mundurnya etos keilmuan umat selama ini dimulai sejak runtuhnya dominasi pemikiran rasional, ada baiknya pendidikan Islam memberikan perhatian lebih banyak pada kebebasan berfikir. Pendidikan yang hanya berorientasi mematri semangat ortodoksi atau fundamentalisme di tengah percaturan masyarakat yang diwarnai oleh pluralitas saat ini, dapat diartikan sebagai satu ajang pembodohan dalam bentuk lain. Karena itu pendidikan seharusnya diupayakan mampu membuka mata invidu atas realitas di sekelilingnya dan mengajarkan sikap bijaksana dalam menghadapinya. 
3.       Menyadari bahwa tulisan ini adalah penelitian awal tentang pemikiran humanistik ar-Razi dalam pendidikan, yang ternyata tidak seburuk seperti yang diduga orang selama ini. Namun, karena keterbatasan yang penulis miliki, masih menyisakan banyak masalah yang belum tersentuh. Di antaranya: kajian kooperatif atas pandangan epistimologi, metafisika, maupun aksiologinya ar-Razi dengan pemikiran tokoh lain, serta telaah yang lebih mendalam tentang muatan konsep teologi dan tasawuf, khususnya berkaitan dengan sinyalemen Leen E. Goodman atas adanya kecenderungan ar-Razi pada ascetis hedonism. Akan lebih baik bila pihak lain yang berkenan mengkaji sisi-sisi yang tersisa, hingga memungkinkan pemahaman atas ar-Razi dan pemikirannya secara lebih utuh.

        Kehadiran pemikiran Filsafat Pendidikan Ar-Razi meberikan arti yang cukup penting dalam menjawab problem-problem pendidikan masa kini dan juga untuk masa mendatang. Dalam hal-hal tertentu pemikiran pendidikan ar-Razi memiliki perbedaan dan persamaan dengan gagasan para pemikir lain. Yang mengjadi kekhasan dari pemikiran pendidikan ar-Razi ini antara lain adalah keberaniannya meletakkan rasionalitas, yang dianggapnya sebagai pancaran Cahaya Ilahi, sebagai unsur pertama untuk memahami diri dan realitas sekitarnya, bahkan sampai pada memahami Tuhan Sang Pencipta (ma’rifat al-Khaliq).
        Oleh karena itu, akan lebih bijaksana apabila ada ikhtiar menyikapi dan meletakkan gagasan pendidikan ar-Razi ini secara proporsional dan jujur.  
        Kemudian terima kasih yang tiada terhingga penulis sampaikan kepada pembimbing, penguji dan pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu penyelesaian karya tulis ini. Apapun bentuknya karya tulis ini, kami tetap berharap semoga memiliki nilai manfaat dan guna. Amin

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tulis komentar anda, kita sharing bersama ......!!! Sertakan Web, Blog, Facebook Atau Jejaring lainnya......!!!! Thaks Before .......

Template by : dinQari it-punya.blogspot.com